Horas and konnichiwa untuk semua


長期契約者にメリットなし さようならau
December 28, 2008, 1:01 pm
Filed under: jp/General

10年間近くauの利用者になりましたが、長期契約者を全く無視しているauはもうさようなら。10年間契約していてずっと年間契約にしているにも関わらず、機種変更しあらたに2年契約にしないとシンプルコースの月額980円を使えないし、長期利用の割引もたったの15%で、年間契約とも兼用できません。1年ちょっとで4000円分もたまったポイントも充電器とかそういうつまらないものにしか使えず、他社への移行もできません。

長期利用者を全く見捨てたauにとどまる理由がなくなってしまいました。

さらば、au!



Multiple NIC on Xen
December 8, 2008, 3:52 pm
Filed under: notes/General

You have multiple NICs on Dom0, but after a standard install of Xen, only one is used by Dom0. You wish Dom0 to use the other NIC too. You need to create another bridge connected to that NI. Here is how:

Edit /etc/xen/xend-config.sxp, change the line below:

(network-script network-bridge)

to become as follows:

(network-script network-multi-bridge)
“network-multi-bridge” is the script you need to make, which contains the following:

#!/bin/sh
# network-xen-multi-bridge
# Exit if anything goes wrong
set -e

# First arg is operation
OP=$1
shift
script=/etc/xen/scripts/network-bridge.xen

case ${OP} in
start)
$script start vifnum=1 bridge=xenbr1 netdev=eth1
$script start vifnum=0 bridge=xenbr0 netdev=eth0
;;
stop)
$script stop vifnum=1 bridge=xenbr1 netdev=eth1
$script stop vifnum=0 bridge=xenbr0 netdev=eth0
;;
status)
$script status vifnum=1 bridge=xenbr1 netdev=eth1
$script status vifnum=0 bridge=xenbr0 netdev=eth0
;;
*)
echo ‘Unknown command: ‘ ${OP}
echo ‘Valid commands are: start, stop, status’
exit 1
esac

Then restart Xen (/etc/init.d/xend restart on CentOS). Do “brctl show” like below and you’ll see now there are two bridges:

[root@vps xen]# brctl show
bridge name     bridge id               STP enabled     interfaces
virbr0          8000.000000000000       yes
xenbr0          8000.feffffffffff       no              vif9.0
peth0
vif0.0
xenbr1          8000.feffffffffff       no              vif9.1
peth1
vif0.1

Now if you have existing DomU, modify the configuration so that it uses both NICs if you want. Then you add the script for the new interface (usually located at /etc/sysconfig/network-scripts) and do an “ifup” to bring the interface up.

That’s it.



Hall of lame: Vodafone, Nokia, Blackberry, iPhone
December 8, 2008, 9:07 am
Filed under: id/General

Jagoan kelas dunia untuk industri mobile phone adalah losers di Jepang: Vodafone, Nokia, Blackberry, iPhone.

Vodafone adalah perusahaan penyelenggara jasa selular terbesar di dunia berdasarkan revenue. Vodafone memulai operasi di Jepang dengan membeli J-Phone tahun 2003, dan menjual operasinya tersebut ke Softbank tahun 2006 karena gagal dalam penetrasi market Jepang.

Nokia memegang share handset terbesar di dunia, beroperasi di Jepang sejak 1989, tapi hingga kini hanya punya 4 shop di Jepang, dan market share Nokia di Jepang dibawah 1%. Handset Nokia yang laku keras dan merajai pasaran di dunia cenderung tidak diminati di Jepang.

Jika bukan karena demand dari eksekutif asing yang berada di Jepang, sepertinya Blackberry tidak akan pernah dijual di Jepang. Tahun 2006 Blackberry mulai dijual oleh DoCoMo dengan target para eksekutif ini. Ini jelas terlihat dari handset yang tidak mendukung penulisan huruf Jepang. Feature yang menjadi daya tarik utama Blackberry adalah push mail, tapi sayang sebab hampir tidak ada handset di Jepang yang tidak bisa push mail, jadi demand terhadap Blackberry sangat rendah.

iPhone diperkirakan oleh analist Credit Suisse akan terjual 1 juta di unit selama tahun 2008 ini di Jepang saat launch bulan Juli tahun ini, tapi hingga bulan September diperkirakan hanya terjual 200 ribu unit (jumlah pasti tidak diketahui sebab dirahasiakan oleh Apple dan Softbank Mobile), dan diperkirakan hanya akan laku 500 ribu unit tahun ini. Sewaktu dimulai penjualan iPhone di Jepang pada bulan Juli lalu memang terlihat antrian pembeli dan terjadi kekurangan stock, tapi sekarang stock ada dimana-mana. Para analist memperkirakan demand tinggal sepertiga dari saat iPhone diluncurkan di Jepang bulan Juli lalu.

Semuanya saat ini berstatus (masih) gagal di market selular Jepang. Kemungkinan penyebab utama adalah sama, yaitu kelihatannya para perusahaan luar negeri ini berpikir kesuksesannya di dunia bisa diulangi dengan mudah di Jepang. Kenyataannya pasar seluler Jepang sangat kompetitif. Apa yang mempunyai daya tarik di luar negeri Jepang, seringkali hanya biasa-biasa saja di dalam negeri Jepang. Misalnya, Blackberry dengan push mailnya sangat tinggi daya tariknya di luar negeri Jepang, tapi di Jepang sejak tahun 90-an banyak handset sudah memiliki push mail, dan sekarang bisa dikatakan tidak ada handset yang tidak punya feature push mail. Demikian juga iPhone, mungkin di Amerika daya tarik “internet machine” seperti iPhone sangat tinggi, karena Amerika relatif terbelakang dalam akses internet via handphone, tapi di Jepang sejak DoCoMo i-mode muncul tahun 1999, mobile internet via handphone adalah hal yang biasa.

Para pemain luar negeri Jepang juga sering tidak merasa penyesuaian feature dengan market Jepang penting, sehingga barang atau jasa dibawa apa adanya dari luar negeri. Untuk PC mungkin ini tidak menjadi masalah, sehingga misalnya Jepang menjadi pasar nomor dua terbesar setelah Amerika Utara untuk Apple Mac, dengan produk yang hampir persis sama dengan yang dijual di Amerika Utara. Tapi situasinya berbeda dengan pasar seluler. iPhone, Nokia, dan Blackberry misalnya tidak mempunyai banyak feature standar yang digemari orang Jepang, seperti emoji dan 1seg. Posisi keypad, on-off switch dan layout screen pun sangat berbeda dengan handset Jepang lainnya. Kebanyakan pembeli iPhone di Jepang disebutkan memiliki handset lain dan menjadikan iPhone handset kedua, artinya feature yang paling diperlukan dari iPhone bukanlah feature telephonynya.

Vodafone menyerah dan keluar dari Jepang, tapi Nokia dan iPhone masih berusaha. Bulan lalu diberitakan bahwa Nokia akan menggunakan fasilitas MVNO untuk memulai layanan selularnya sendiri di Jepang. Karena desakan Softbank (operator iPhone di Jepang), firmware terbaru iPhone sudah mendukung emoji, dan unit tambahan dari Softbank memungkinkan iPhone menerima siaran 1seg via WiFi. Blackberry baru mulai, dan memang sepertinya belum mentargetkan pasaran umum, mungkin karena feature yang ditawarkan terlalu jamak dan tidak ada operator yang mau.

UPDATE: Ternyata Nokia Japan telah mengeluarkan pernyataan menghentikan semua aktifitas sales ponsel di Jepang kecuali ponsel luxury. Jadi Nokia telah menyerah.